Selamat Datang Di Taman Baca Masyarakat RaTubagus, Mari Cerdaskan Bangsa Dengan Membaca

Pejantan Tangguh

Kamu terlahir seperti dewa. Memiliki tangan yang kuat. Tapi hatimu selembut sutera. Senyummu hangat seperti matahari. Jiwamu seperti seorang ksatria. Akhirnya, sedikit demi sedikit kamu dapat menaklukkan dunia, bukan ? Maka janganlah menyerah. Apa hebatnya dunia, jika tanpa dirimu ?

Dia lelaki yang tampan. Sepasang matanya teduh dan bulu matanya lentik. Kulitnya kuning bersih. Dadanya bidang. Rambutnya hitam ikal pendek. Yang satu lagi berambut lurus. Suaranya seperti seorang ksatria. Jiwanya kuat dalam mengarungi hidup. Namun hatinya selembut sutera. Bicaranya santun dan senyumnya seperti matahari yang bersinar hangat. Sungguh, dia bukanlah seorang lelaki biasa.

Aku menyebutnya pejantan tangguh. Karena dia adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab dan sangat menghormati para wanita. Dia tidak pernah mengecewakan bundanya. Bahkan ayahnya saja menangis dan memohon maaf padanya, karena dialah yang menggantikan posisi ayah menjadi kepala keluarga, meski usianya masih belia.

Mungkin lelaki itu, terlahir seperti dewa. Dia memiliki tangan yang kuat. Tenaga seperti Hercules dan otak yang tajam. Meski tadinya lelaki itu adalah adik kesayangan para kakak perempuannya yang manja. Kini dia telah tumbuh besar, malah melebihi para kakaknya yang semuanya perempuan. Karena suatu krisis dalam Klan keluarga kami dan kemudian ayah jatuh sakit sampai akhirnya ayah meninggal. Kemudian adikku yang selalu kulindungi tidak lagi nakal dan bolos sekolah. Sekarang dia harus bekerja di ibu kota sambil melanjutkan pendidikan hingga mendapat gelar Sarjana dengan biaya sendiri. Kemudian harus menjadi salah satu tulang punggung keluarga lagi. Turut membantu membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Adikku, pangeranku, dia adalah seorang Pejantan tangguh !

Entah dari mana datangnya kekuatan itu. Yang pasti bagai tersambar petir dan memiliki jurus rahasia dunia persilatan. Atau seperti mendapatkan pedang sakti legendaris. Adikku dapat bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Sedikit demi sedikit akhirnya dia dapat menaklukkan dunia.

Semangatnya untuk menjadi seorang pendekar seperti semangat dewa. Belum tentu orang lain dapat setegar dirinya. Dan bisa seberhasil dirinya. Entah bagaimana orangtuaku mendidiknya, aku sangat bangga. Ternyata para lelaki di keluarga kami adalah para petarung hebat dan sudah terbukti kualitasnya.

Karena hidup dan tinggal di keluargaku, tidak bisa selalu mengharap keajaiban dan hujan emas akan turun. Tapi segalanya diraih dengan semangat yang tinggi dan kerja keras. Di keluargaku, semuanya adalah para petarung. Baik laki-laki maupun perempuan. Karena hidup ini tidak bisa bergantung pada orang lain. Hidup ini harus berdiri di kaki sendiri. Karena itulah sifat para pejantan bukan pecundang.
Adik lelakiku jarang pulang ke rumah. Dia sibuk berjuang di medan tempur. Membuat bundanya merasa khawatir saja. Para kakaknya menjadi cemas. Sang ayah selalu menunggu kini telah tiada. Tapi kami semua percaya padanya. Kami menitipkan doa untuknya.

”Ya Allah... lindungilah permata hati kami. Para ksatria kami yang sedang berjuang untuk keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Lapangkanlah dadanya. Mudahkanlah urusannya. Jagalah kesehatannya."

Seandainya kakak di sini bisa mengirim ibu peri atau malaikat yang menjaga kakak, untuk menjagamu saja. Kakak akan merasa lebih tenang. Karena kamu jauh dari kami.

”Ya Allah..., jagalah mereka, mudahkanlah urusannya, lapangkanlah dadanya”
”Wahai Para Malaikat..., jagalah mereka dari gangguan Iblis yang jahat”
”Wahai Bintang-bintang...., jagalah mereka di setiap tidurnya agar tidak bermimpi buruk”

Akhirnya, semoga kelak mereka bisa mendapatkan bidadari-bidadari yang cantik. Para bidadari yang pantas untuk mendampingi para pejantan tangguh.

**( Untuk yang sedang berjuang di Ibu kota dan Bandar Lampung. Percayalah, kalian sangat berharga! Manusia yg berharga adalah manusia yg memiliki nilai ).

oleh : Ratu Nijmah

0 komentar:

Posting Komentar

TBM RaTubagus © 2008 Template by:
SkinCorner